Cerita Istimewa " Tentang Dia "

Tentang Dia

Aku masih mengejarnya. Berlari terus mengejarnya. Aku tak tahu kapan, aku bisa sampai. Tapi, yang pasti aku sekarang mengejarnya, dengan langkah kaki-kakiku. Kakiku telanjang. Kakiku sakit. Tergores kerikil tajam. Biar saja. Biar saja. Biar saja. Dan akan kutaklukkan semuanya. Dalam genggaman. Asalkan aku bisa bersama dengan dia.

Aku mengenalnya. Walaupun begitu, dia itu misterius, bagiku. Entah karena apa aku selalu tertarik padanya. Tapi, aku belum tahu dia tertarik denganku atau tidak. Sebenarnya jika melihat dari wajah sih –bukannya gr – teman-teman bilang wajahku seperti model-model majalah remaja, walaupun hingga detik ini aku tak pernah melombakan wajahku untuk itu. Aku jadi tak mengerti dengan dia. Aku begitu penasarannya, sampai-sampai cowok-cowok jomblo yang nembak aku, kutolak.

Hal ini membuatku bingung, sekaligus juga membuat aku tenang. Di mataku dia begitu sempurna adanya. Mengapa? Selalu itu pertanyaan yang menyeruak di hatiku dalam. Dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu selalu buntu. Aku dan dia selalu bersama. Tertawa dan bercanda bersama. Bahkan, tak jarang kami saling berbagi cerita, curhat istilahnya. Tapi, ketika aku bertanya perihal dia padanya, selalu saja dia mengalihkan pembicaraannya, seolah-olah itu adalah pertanyaan yang tak boleh kutanyakan.

Tetapi, sewaktu aku dan dia sedang bersama di suatu sore yang kemerah-merahan. Tiba-tiba dia bertanya kepadaku tentang dia. Dia aneh menurutku, tapi justru karena keanehan itu ada dia menaungiku. “Re, kenapa sih? Cowok-cowok cakep-cakep gitu, bukannya kamu terima malah ditolakin, sayang Re. Sayang,” katanya bertanya padaku perihal sebab-musabab aku selalu menolak cowok-cowok yang nembak aku.

Mendengar pertanyaan darinya itu, aku segera menjawab spontan, “Tak ada dia dalam diri mereka yang menghinggapi diriku.”

Dan dia merespon pernyataanku barusan. “Dia? Dia siapa?” Tanyanya. Dan aku pun bercerita tentang dia. Dia yang selalu saja tak bisa kumengerti, dengan segala diamnya. Dia yang selalu bersama denganku, tetapi tetap tak mampu membuatku leluasa untuk bisa tahu segala tentang dia.

“Aku hanya mau sama dia!” Kataku.

“Dia?! Kamu suka sama dia? Dia siapa?” Tanya dia bertubi-tubi.

“Iyah dia,” kataku menegaskan. Aku tak melanjutkan perkataanku, walaupun kucoba bibir ini terasa terkatub dan tenggorokan ini tak mau bersuara lantang. “Kamu mau nolongin aku?” Tanyaku.

“Nolongin apa?”

“Ya, nolongin aku untuk bisa tahu tentang dia. Dia!”

“Enggak tahulah. Aku enggak janji lho!” Aku lega sekarang ada seseorang yang akan membantuku untuk mengetahui siapa dia sebenarnya. Walaupun dia berkata seperti itu, aku percaya padanya bahwa dia pasti akan membantuku untuk mencari tahu tentang dia.

Semenjak itulah aku dan dia mencari tahu tentang dia. Setiap kali ada berita baru tentang dia. Dia segera memberi kabar kepadaku. Dan ketika aku tahu tentang dia, aku selalu bercerita kepada dia, bagaimana keadaan dia. Dan tiap kali kami rampung bercerita, pertanyaan yang baru terus menerus muncul. Dan ini membuat aku dan dia terus bertanya tentang dia.

+++

Semilir angin membawaku. Melayang kuikuti. Hembusannya menembus semua, sejuk kurasai. Alirannya membawaku melintas ke padang-padang panjang, ladang-ladang, ngarai-ngarai, kanal-kanal. Terus kuikuti maju ke depan. Aku juga tak pernah mau mundur ke belakang. Apapun resikonya. Hidup adalah sebuah resiko. Dan jika ini kenyataan dari semuanya, harus kuhadapi. Harus kuhadapi. Harus kuhadapi. Dengan sisa kekuatanku yang masih tersisa hingga esok. Oh, inikah dia.

“Re, bangun Re!” Dia menggedor kamar kos-kosan Rea dengan sekuat tenaga, pasalnya dia lagi buru-buru kali ini untuk memberitahukan kepada Rea perihal dia.

Pintu kos-kosan itu pun dibuka, Rea mengucek matanya – karena dia baru bangun tidur. “Ada apaan sih? Kok kamu tiba-tiba banget datang ke sini?”

“Aku sudah tahu tentang dia!” Kata dia sumringah, “kemaren pas aku di kampus, aku lihat ada beberapa pamlet yang bergambar dia. Dan ketika kubaca pamlet itu, aku jadi mengerti siapa dia. Katanya, dia akan konser malam ini di Lembah*.”

Aku berpikir-pikir sejenak untuk lebih menyadarkan jiwaku yang belum kembali dalam kesempurnaannya di tubuhku. Aku begitu bersemangat sekarang, setelah dia berkata dia tahu tentang dia. Dia. Aku tersenyum sendirian membayangkan dia. Dia. Oh, dia.

+++

“Bukan! Itu bukan dia! Bukan dia!” Kataku, ketika aku dan dia sama-sama menonton konser –yang kata dia adalah dia, yang dibaca di pamlet kampusnya.

“Berarti aku salah donk! Maaf ya!” Dia memohon maaf padaku, “kalau begitu kita jalan-jalan aja sekarang. Kelihatannya belum terlalu malam dan purnama masih terang benderang. Aku yang traktir deh, sebagai ungkapan permintaan maafku!” Lalu kami berdua pun berjalan-jalan hingga pukul 9.00 Wib. Dia mentraktir apa yang menjadi keinginanku.

“Wah, tampaknya kamu benar-benar mau minta maaf nih!” Dan dia menjadi cengengesan, wajahnya memerah. Dia menjadi tersipu malu-malu, menahan tawanya sendiri. Aku yang melihatnya, tertawa, abis dia lucu sih. Lalu kusadari mimik wajah dia tiba-tiba berubah, menjadi serius. Ia tak tertawa. Terdiam. Tak lagi lucu.

Dalam keadaan seperti itu, dia berkata, “Rea, apa benar kamu benar-benar suka sama dia?”

“Yah, tentu saja!” Jawabku, “memangnya ada apa?”

“Selama ini aku dan kamu selalu bertanya, bertanya dan bertanya tentang dia, di mana dia. Lalu aku berpikir seandainya dia itu adalah aku, apakah kamu mau jatuh cinta kepadaku? Dan menjadikan aku dan kamu sebagai kita dalam naungan dia?” Terkejut aku mendengar ungkapan yang dia ucapkan, tapi kemudian aku tersenyum. Dan kupegang pipinya. Ya, kelihatannya kamu baru tahu bahwa dia itu adalah kamu. Kamu yang selalu bersamaku. Kamu yang selalu ada di sisiku, setiap kali aku membutuhkan pertolongan. Kamu yang sahabatku, bertahun-tahun lampau. Kamu yang mencari dia bersamaku adalah cinta. Dan sekarang telah kita temukan dalam hari-hari yang kita lewati bersama.

“Sudah lama aku ingin mendengar kata-kata ini dari mulutmu! Sudah lama sekali kusimpan ini dalam hatiku, dan ternyata itu tak sia-sia. Aku menunggu kamu mengucapkannya. Ternyata baru sekarang, tapi itu adalah cukup. Karena itu, sekarang, jadilah dia. Dan kita akan selalu bersama selamanya.”

Selesai menyelesaikan itu kami pun berjalan pulang bergandengan tangan, bersama dia yang selalu menaungi. Dan purnama masih bersinar terang dalam kegelapan malam, seperti hatiku yang sedang dipenuhi cahaya-cahaya keindahan dari dia. Dingin malam tak lagi terasa. Oh, malam purnama, hatiku bahagia.

5 comments:

  1. Mana lagi cerpen karya bang uqi? kangen baca cerpennya bang uqi lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi gak ada inspirasi, kalo boleh aku post cerpen mu aja, gimana :D

      Delete
  2. Monggo mas monggo, aku siap order cerpen :D

    ReplyDelete

Komen disini ya :)